Finally! Tektok ke Bali?
Februari 09, 2026Aku pernah berniat dan telah menyusun rencana untuk liburan ke Bali, tinggal di Bali, atau menua di Bali, dan akhirnya, justru Dela yang dipilih oleh Bali untuk tinggal disana.
Dalam rangka mengantar anak kedua di keluarga ini, aku akhirnya turut menginjakkan kaki di pulau Dewata. So, bagaimana Bali di mataku untuk pertama kalinya?
Keberangkatan :
Dengan waktu secepatnya, aku dan Dela berangkat menggunakan bus (Tami Jaya), pada hari Jumat siang. Sebenarnya tiket kita jam 4 sore, tapi tiba-tiba dikabari oleh pihak bus pada hari sebelumnya, bahwa bus kita maju di jam 2 siang.
Berangkat dari Solo, karena di tiket busnya executive, kita kaget justru mendapat bus sleeper. Alhamdulillah, rejeki nomplok.
Meskipun baru pertama kali ke Bali, tapi sebelumnya, aku pernah menyeberang laut di Karimunjawa (cek juga tulisan soal Karimun ya). Disini. Dan, alhamdulillah kali ini juga aman.
Hari Sabtu pagi, sekitar jam 6, kita sampai di garasi bus, titik akhir pemberhentian di Denpasar. Setelah cuci muka dan merapikan bawaan, kita pesan ojek online. Menuju kemana kita? Pantai Jimbaran.
Pantai Jimbaran :
Kenapa Jimbaran? Random.. dan dekat dengan klinik Dela. Kita tidak sempat beli sarapan atau pun makan siang. Hanya makan camilan yang kita bawa dari rumah dan dibeli saat perjalanan.
Aku ceritakan disini beserta lookbooknya hehe : Queen Beach, Jimbaran.
Klinik dan Pulang :
Setelah Sigit datang menyusul kita di Jimbaran, bercengkrama sebentar dan disambutnya dengan sekresek kue pie susu, kemudian kita memutuskan untuk menuju klinik karena sudah dikejar waktu. Ya, keberangkatanku untuk pulang terhitung jam. Kita memesan ojek online, sedangkan Sigit mengikuti mobil kita dari belakang. Pengemudi mobilnya ternyata orang Salatiga. Yaps, dan kita sedikit berbincang. Melewati jalanan Bali, kita sampai di Jimbaran bagian agak atas.
Ngomong-ngomong soal Sigit, dia adalah sepupu kita yang sudah tinggal di Bali selama sekitar 2 tahunan. Dia yang menyambut kita di Bali dan mengantar kesana-kemari, dan sekarang bebannya bertambah dengan dititipi princess yang akan kerja di Bali, hehehe.
Terimakasih Sigit, tour guide Bali asli Makassar yang sudah menyambut kita dengan sepenuh hati dan memberikan tips atau pun saran untuk tinggal di Bali. Soon, di next trip ke Bali, kita harus banyak main dan makan.
Meninggalkan Dela di klinik membuatku sedikit menangis karena terharu, yah bittersweet. Dan aku harus segera pamit, untuk diantar Sigit ke terminal. Di jalan, Sigit bercerita soal Bali ini dan itu. Membuatku tidak sedih lagi. Dia menunjukkan salah satu best view di Bali, saat kita turun dari Jimbaran, sebelum simpang empat. Kalau disini seperti bukit bintang.
Bali panas, terik menyengat. Pagi slow, menjelang siang mulai ramai dan jalanan macet. Lampu merah ada yang lumayan lama. Kita melewati beberapa kabupaten sekaligus. Kata Sigit, disini kabupatennya kecil-kecil. Dia juga membuatku merasakan belanja oleh-oleh di toko langganannya. Dia seorang tour gude, jiwanya muncul ketika aku agak lama memilih oleh-oleh, meskipun dia juga menjelaskan oleh-oleh ini dan itu, katanya "waktumu tinggal 15 menit lagi, tapi nggak papa kalau mau beli tiket baru," hahaha, aku langsung menuju kasir dan menolak tawaran kacang gratis oleh ibu kasir jika mereview toko oleh-olenya. Maaf, waktu saya terbatas, huhuhu. Next time, aamiin.
Setelah kurang dari 12 jam menghabiskan pagi dan siang di Bali, aku bilang ke Sigit, "sepertinya aku nggak jadi deh pengen tinggal di Bali," karena dulu, jauh sebelum Dela akan kerja di Bali, aku lebih dahulu bilang ke Sigit ingin cari kerja di Bali.
"Kenapa?" tanyanya. "Karena jauh, aku sepertinya kesini liburan saja, tidak tinggal,"
"Ya, begitulah, bukan kita yang menentukan untuk tinggal di Bali, tapi Bali yang memilih kita." katanya.
Bali kali ini tidak memilihku menjadi penghuni tetap, tapi terimakasih sudah menyambutku untuk jadi pengunjungnya kali ini meski singkat.
Memang, beberapa temannya yang dia ceritakan juga begitu. Kadang tidak berencana tinggal di Bali, tapi justru bertakdir disini.
Sebuah video pendek Fika in Bali.
- watch now -
Aku pulang masih menunggu beberapa waktu untuk busku datang (Mtrans) tidak sleeper, dan leherku sakit sampai sekarang, karena tubuhku yang mungli tidak pas untuk sandarannya.
Sigit langsung meninggalkanku begitu sampai di terminal, katanya akan lanjut bekerja. Padahal tadi siang, dia bilang izin libur kerja. Dasar, wkwk.
Pulang sendiri dari pulau ini rasanya waktu berjalan lama, lama sekali. Saat di kapal, aku turun, karena semua orang juga turun dan menyeduh pop mie. Aku melihat orang-orang terakhir yang akan turun dari bus kehabisan air panas di bus, sehingga katanya mereka akan beli di kapal dan turun segera. Aku turut turun, kata Dela aku bisa menikmati laut karena hari belum begitu petang.
Alih-alih beli air panas, menolak ribet, aku meningglakan pop mie (snack dari bus) di tas dan aku langsung beli popmie besar sekaligus teh anget setelah sampai di kantin kapal. Menikmati pop mie sendirian samil mendengarkan musik lewat earphone.
Goodbye Bali.. perjalananku masih panjang untuk sampai di Solo. Kamu cantik, see you! Aku main lagi kapan-kapan nanti ya!

0 comments